BRIN dan IAEA Perkuat Kapabilitas Forensik Nuklir di Asia Tenggara
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), bekerja sama dengan International Atomic Energy Agency (IAEA) menyelenggarakan Regional Peer-to-Peer Workshop on Nuclear Forensics. Lokakarya ini, yang diadakan di Yogyakarta dari 26 hingga 30 Agustus 2024, bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas keamanan nuklir, khususnya dalam bidang forensik nuklir di kawasan Asia Tenggara.
Pentingnya Penguatan Kapabilitas Forensik Nuklir
Kepala ORTN BRIN, Syaiful Bakhri, menjelaskan pentingnya penguatan kapabilitas forensik nuklir untuk perkembangan keamanan nuklir di Asia Tenggara. “IAEA memberikan dukungan kepada negara-negara anggota ASEAN dalam teknologi forensik nuklir di tingkat global. Penguatan ini mencakup peralatan, metodologi analisis, dan interpretasi untuk memastikan kapabilitas forensik nuklir yang optimal,” ujarnya saat membuka lokakarya.
Syaiful menjelaskan bahwa forensik nuklir penting untuk mengidentifikasi “sidik jari” material nuklir. “Material nuklir dari berbagai sumber—baik dari tambang, fasilitas nuklir, atau industri medis—memiliki karakteristik unik. Dengan mengetahui sidik jari ini, kita bisa melacak asal usul material yang mungkin disalahgunakan atau berpindah ke tempat yang tidak seharusnya,” tambahnya.
BRIN berfokus pada penyiapan ahli dalam karakterisasi material nuklir, pemanfaatan peralatan untuk metodologi forensik nuklir, dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. “Kami berharap para peneliti dapat menguasai teknik karakterisasi sidik jari material nuklir dengan akurasi yang tinggi dan mengikuti perkembangan teknologi forensik nuklir secara global,” ungkapnya.
Pentingnya Metodologi Forensik Nuklir yang Kuat
Lebih lanjut, Syaiful menyebutkan pentingnya metodologi forensik nuklir yang kuat. “Meski alat penunjang mungkin sudah ada di BRIN, penting untuk meningkatkan keterampilan dalam pemanfaatannya, termasuk dalam mengidentifikasi isotop, menentukan rasio isotop, serta karakterisasi fisik dan kimia material nuklir. Ini penting untuk investigasi material nuklir di luar kendali regulasi,” jelasnya.
Pengembangan riset forensik nuklir memerlukan kolaborasi yang luas. “BRIN perlu bekerja sama dengan universitas di Indonesia untuk menemukan talenta yang berbakat, serta melibatkan kepolisian dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dalam pengawasan pemanfaatan bahan nuklir dan radioaktif,” tambah Syaiful.
Perwakilan IAEA, Chelsea Willett, menyatakan bahwa lokakarya ini adalah platform regional bagi ahli teknis dari negara-negara anggota IAEA di Asia Tenggara untuk berdiskusi dan berbagi praktik terbaik dalam forensik nuklir. “Peserta dapat berbagi pengalaman dan pendekatan untuk meningkatkan keterampilan forensik nuklir, membangun hubungan jangka panjang, dan memperkuat kesadaran akan peran forensik nuklir dalam keamanan nuklir,” ujarnya.
Baca juga : BRIN Tampilkan Inovasi Pertanian di Jateng Agroinnovation Expo
Chelsea menambahkan bahwa lokakarya ini, yang merupakan yang pertama kali diadakan oleh IAEA dengan metode pembelajaran terbaru bersama Lawrence Livermore National Laboratory dari Amerika Serikat, diikuti oleh 18 peserta dari Indonesia, Kamboja, Vietnam, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Myanmar. Peserta dari Indonesia mencakup anggota BRIN, BAPETEN, dan Puslabfor POLRI.
Selama acara, peserta mempelajari teknik seperti gamma spektrometri dan scanning electron microscopy (SEM), serta penentuan rasio isotop melalui kuliah oleh ahli IAEA dan latihan forensik nuklir dalam bentuk Table Top Exercises. Setiap negara peserta juga membagikan pengalaman dan kapabilitas forensik nuklir mereka melalui presentasi poster.

