Riset Mengenai Teknik Peleburan Logam di Indonesia
Logam telah menjadi salah satu pilar penting dalam perkembangan peradaban manusia. Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia telah memanfaatkan logam untuk berbagai keperluan, dari alat pertanian hingga perhiasan. Namun, bagaimana sebenarnya teknik peleburan logam pertama kali muncul di Indonesia? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal di Nusantara sejak 2000 tahun yang lalu.
Awal Mula Penggunaan Logam
Sebelum manusia mengetahui cara melelehkan dan memproses logam, mereka lebih dulu menggunakan logam dalam bentuk ornamen seperti kalung, gelang, dan anting. Seiring waktu, pengetahuan mengenai logam semakin berkembang, dan manusia mulai menciptakan artefak yang lebih kompleks. Dalam waktu sekitar 11 ribu tahun, manusia berhasil menciptakan berbagai benda dari logam yang tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga menjadi simbol status sosial dan kekuasaan.
Penelitian di Kalimantan
Saya merupakan bagian dari tim penelitian yang dipimpin oleh Hartatik, peneliti arkeologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Penelitian ini dilaksanakan di Kalimantan antara tahun 2017 hingga 2021, dengan fokus pada jejak teknik peleburan logam yang diungkap oleh Carl Schwaner, seorang geolog Jerman yang bekerja untuk Hindia Belanda pada tahun 1853. Dalam bukunya yang berjudul Borneo: beschrijving van het stroomgebied van den Barito, Schwaner mencatat adanya aktivitas peleburan besi di hulu Sungai Barito.
Dengan merujuk pada temuan Schwaner, kami menemukan situs-situs peleburan logam di wilayah Montalat, Kabupaten Barito Utara. Penemuan ini melengkapi bukti arkeologis di Danau Matano, Sulawesi Selatan, yang menunjukkan adanya aktivitas perdagangan dan pertukaran barang pada masa Kerajaan Majapahit. Selain itu, bukti peleburan besi pada masa Islam juga ditemukan di Banten, di mana terdapat wadah pelebur logam dan bekas lubang pembakaran.
Temuan di Kalimantan Tengah
Selama lima tahun penelitian, tim kami berhasil mengidentifikasi 26 situs lokasi peleburan besi di Daerah Aliran Sungai Teweh dan Montalat. Kami melakukan ekskavasi di lima situs: Buren Benangin, Buren Temelalo, Buren Mejahing, Buren Jaga Ramis, dan Buren Mangu. Di lokasi-lokasi ini, kami menemukan jejak terak besi, bijih besi yang telah dihaluskan, tuyere (pipa udara), serta arang.
Melalui analisis radiokarbon C14 di Laboratorium Universitas Waikato, Selandia Baru, kami memperoleh hasil penanggalan untuk setiap lokasi. Misalnya, situs Buren Benangin menunjukkan usia antara 1653-1665 M, sementara Buren Temelalo antara 1528-1552 M. Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas peleburan besi di Kalimantan Tengah berlangsung antara abad ke-16 hingga ke-19 Masehi.
Eksperimen Peleburan Logam
Pada tahun 2019, saya melakukan eksperimen peleburan logam di situs Benangin dan Temelalo. Eksperimen ini merupakan upaya pertama untuk menjawab bagaimana proses peleburan besi dapat dilakukan dengan menggunakan sumber daya lokal seperti laterit dan hematit. Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat di Kalimantan Tengah memiliki kemampuan untuk mengolah bijih besi menjadi logam setengah jadi sejak lama
Penelitian juga menemukan bahwa tungku peleburan yang digunakan terbuat dari tanah liat dan rotan. Ekskavasi di wilayah Gua Cililin 1 dan Gua Batu Larung di Kalimantan Selatan menambah bukti bahwa teknik peleburan logam sudah ada sejak awal abad Masehi. Berdasarkan analisis C-14, kegiatan ini bisa ditelusuri hingga ke abad ke-2 SM.
Sejarah Masuknya Logam di Indonesia
Riset mengenai teknologi peleburan logam di Indonesia juga mengungkapkan bahwa logam pertama kali ditemukan di Gua Harimau, Sumatra, sekitar abad ke-4 SM hingga abad ke-1 M. Penemuan ini menandai kebangkitan zaman logam di Indonesia. Aktivitas peleburan besi di Kalimantan terus berlangsung hingga abad ke-19 M.
Penelitian yang dilakukan di Matano, Sulawesi Selatan, juga menunjukkan bahwa wilayah tersebut memasok besi untuk Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Selain itu, riset di Bali mengungkap adanya hubungan perdagangan antara Bali dan Laos, di mana logam mentah diekspor dari tambang kuno di Laos ke Bali untuk diolah menjadi produk jadi.
Baca juga : Rahasia Sukses Sistem Pendidikan Finlandia yang Tanpa Ranking
Melalui penelitian yang intensif selama tujuh tahun, kami berhasil memperluas pemahaman mengenai teknik peleburan logam di Indonesia. Temuan ini membuktikan bahwa nenek moyang Indonesia telah mengenal dan menguasai teknik peleburan logam sejak ribuan tahun lalu. Hal ini menjadi bukti penting dalam memahami perkembangan teknologi dan budaya di Nusantara serta peran logam dalam peradaban manusia.

