Penelitian

One Health: Strategi Global untuk Perlindungan Kesehatan

Advertisements

Sebagai negara tropis, Indonesia menghadapi risiko tinggi terhadap zoonosis, yaitu penyakit yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia, seperti SARS, MERS, dan Ebola. Pandemi COVID-19 telah menegaskan pentingnya pendekatan yang holistik dan terkoordinasi untuk melindungi kesehatan global.

Focus Group Discussion (FGD)

Dalam rangka mengatasi tantangan tersebut, Organisasi Riset (OR) Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Strengthening One Health Research and Collaboration for Preventing Zoonotic and Emerging Diseases.” Acara ini diadakan secara hybrid pada 26-27 Agustus 2024 di Kawasan Kerja Bersama (KKB) BRIN Rawamangun, Jakarta, dan melibatkan berbagai pihak terkait kesehatan.

Pendekatan One Health

Kepala OR Kesehatan BRIN, Prof. Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menyatakan bahwa isu monkeypox telah menjadi perhatian utama baik di tingkat nasional maupun global. Dia menekankan pentingnya setiap kementerian dan lembaga untuk fokus pada fungsi masing-masing dalam mengatasi, mencegah, dan memitigasi penularan penyakit ini, baik dari hewan ke manusia maupun antar manusia.

Prof. Indi memperkenalkan pendekatan “One Health,” sebuah konsep yang semakin diakui secara global untuk menangani masalah kesehatan yang kompleks dan interdisipliner. Pendekatan ini menekankan hubungan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, serta perlunya kolaborasi lintas sektor untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons penyakit zoonosis dan penyakit baru yang muncul.

Menurut Indi, sekitar 70% penyakit yang menjadi pandemi berasal dari hewan. Dengan demikian, FGD ini bertujuan untuk memperkuat riset dan kolaborasi melalui pendekatan One Health. “Pendekatan ini memungkinkan deteksi dan identifikasi dini terhadap wabah yang mungkin muncul di populasi hewan maupun manusia. Dengan pemantauan berkelanjutan terhadap kesehatan hewan dan lingkungan, kita dapat memberikan peringatan dini dan melakukan intervensi cepat,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi, Rama P. S. Fauzi dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) membahas topik “Cross-Sectoral One Health Collaboration: Policy to Its Implementation.” Ia menjelaskan bahwa One Health melibatkan berbagai sektor, disiplin ilmu, dan komunitas untuk menangani masalah kesehatan yang kompleks. Rama juga menguraikan berbagai risiko yang dihadapi manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan akibat penyakit infeksius baru, zoonosis potensial, resistensi antimikroba, dan bahaya pangan. Ini merujuk pada Instruksi Presiden No. 4 Tahun 2019 yang bertujuan meningkatkan kemampuan dalam mencegah dan merespons wabah serta kedaruratan nuklir, biologi, dan kimia.

Rama menambahkan bahwa Kemenko PMK telah melakukan berbagai upaya, termasuk peningkatan kapasitas kementerian/lembaga, penyusunan pedoman, dan pengembangan kerangka kerja sama internasional. “Kami mengimplementasikan One Health dengan melakukan kolaborasi mitra, pengukuran kapasitas nasional, penilaian risiko bersama, serta pengembangan Sistem Informasi Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru (SIZE),” jelasnya.

Integrasi Pendekatan Kesehatan

Yullita Evarini Yuzwar dari Kementerian Kesehatan menjelaskan tentang integrasi pendekatan kesehatan ke dalam strategi kesehatan yang lebih komprehensif. Dia menyebutkan prioritas pencegahan penyakit menular dari hewan, seperti rabies, antraks, leptospirosis, flu burung, pes, dan paeniasis. Yullita memberikan contoh kasus rabies dari Januari hingga Juli 2024 di lima provinsi dengan kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR) tertinggi dan enam provinsi dengan kematian rabies tertinggi.

Dia menegaskan pentingnya upaya penanggulangan rabies dengan pengawasan terintegrasi lintas sektor dan tata laksana gigitan hewan sesuai SOP serta pemberian vaksinasi.

Syafrizon Idrin dari Kementerian Pertanian membahas ketahanan pangan dari sektor pertanian dan penanganan penyakit hewan menular. Dalam RPJMN Pertanian dan Renstra Kementerian Pertanian 2025-2029, pencegahan penularan penyakit hewan menjadi salah satu pilar utama.

Terakhir, Dedi Candra dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menguraikan peran kesehatan ekosistem dalam mencegah wabah. Dia menjelaskan tantangan pencegahan dan pengendalian penyakit pada satwa liar serta perlunya pengembangan strategi pencegahan, kerja sama lintas sektor, dan partisipasi masyarakat. “Dengan langkah-langkah yang tepat, kita dapat menjaga keseimbangan antara manusia dan satwa liar serta mencegah penyebaran penyakit,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *