Agama dan Imajinasi
Oleh: Prof. Dr. Abad Badruzzaman, Guru Besar UIN SATU Tulungagung
Yakin saya kita sudah punya pemahaman apa itu imajinasi. Tapi kuatir saya pemahaman kita tentang imajinasi itu berbeda dengan yang dimaksud oleh buku ini. Maka kita samakan dulu pemahaman tentang imajinasi, setidaknya menurut buku ini. Meski saya percaya, di luaran sana terutama seputar agama, filsafat, dan tasawuf-irfan, makna hakiki dari imajinasi tak jauh-jauh dari yang ditegaskan dan diserukan oleh buku ini.
Mas Fahruddin Faiz, penulis Kata Pengantar untuk buku terbaru Ustad Haidar Bagir ini, “meluruskan” pemaknaan kata imajinasi. Secara etimologis dan filosofis, demikian Mas Faiz, imajinasi adalah kemampuan jiwa untuk membentuk citra atau representasi batiniah dari sesuatu, baik yang pernah dialami maupun yang belum pernah dialami.
Imajinasi tidak berarti “mengada-ada” dalam arti negatif, tapi daya kreatif mental yang menghubungkan indra dengan makna, bahkan mampu membuka jalan menuju pemahaman spiritual. Imajinasi tidak sama dengan khayalan kosong, seperti sering dipahami sepintas; melainkan bagian dari akal yang mendalam, yang memungkinkan kita menangkap makna di balik realitas, mengalami kehadiran yang tak terjangkau pancaindra, dan hidup dalam kesadaran akan dunia yang lebih tinggi dari materi.
Imajinasi adalah Kemampuan Langka
Dalam konteks ini, lanjut Mas Faiz, imajinasi adalah kemampuan langka; daya batin yang memungkinkan manusia menembus batas realitas empiris dan menyelami kehidupan secara lebih mendalam. Mas Faiz mengutip kata-kata filsuf moral Martha Nussbaum:
“I think the imagination helps us move out of the purely oppositional mentality and see the world in a richer and more variegated way (Saya pikir imajinasi membantu kita keluar dari mentalitas oposisional belaka dan melihat dunia dengan cara yang lebih kaya dan beragam).”
Lalu seperti apa rumusan agama dan imajinasi? Di mana kedudukan imajinasi terhadap agama? Mengapa perlu ada imajinasi dalam beragama? Bagaimana imajinasi bekerja untuk memperkaya dan memperluas cakrawala serta pengalaman beragama?
Nampaknya pertanyaan-pertanyaan itu dapat terjawab dengan penggambaran yang dibuat Mas Faiz berikut:
“Pada ruang spiritualitas, imajinasi hadir secara alami dan mendalam. Saat seseorang berdoa, berzikir misalnya, ia menggunakan daya imajinasi untuk membayangkan kedekatannya dengan Tuhan, merasakan seolah-olah Allah melihatnya ketika ia berdiri dalam shalat, atau membayangkan keindahan surga sebagai cita-cita moral yang membimbing laku hidupnya.
Di ranah aktual keberagamaan, imajinasi sering termanifestasi dalam ekspresi yang estetis dan simbolis. la hidup dalam keindahan kaligrafi, dalam arsitektur masjid yang menjulang, dalam puisi-puisi cinta Ilahi para sufi, dan dalam tafsir kisah-kisah Qur’ani yang menyentuh batin. Semua ini memperkaya pengalaman beragama, tidak hanya secara rasional, tetapi juga secara emosional dan spiritual; menghadirkan rasa, makna, dan kehadiran yang dalam. Imajinasi dari sudut pandang ini, dengan demikian, adalah pintu menuju kedalaman iman.”
Sebelum beralih ke Penulis, Ustad Haidar Bagir, saya kutip satu lagi Mas Fahruddin Faiz dari Pengantar-nya:
“Buku ini juga menegaskan bahwa daya imajinasi adalah kekuatan epistemologis dan ontologis. Imajinasi bukan sekadar kemampuan membayangkan yang belum ada, tetapi juga daya untuk menangkap kenyataan yang tak tertangkap oleh pancaindra. Dalam konteks ini, ia berkait erat dengan dzawq-cita rasa spiritual yang memungkinkan pengetahuan langsung dan menyatu dengan realitas ruhani. Di sinilah kita mengerti mengapa dalam berbagai tradisi spiritual, termasuk dalam Islam, banyak pengalaman keagamaan yang hadir dalam bentuk simbol, mimpi, dan visi batin.”
Imajinasi Memampukan Orang…
Sekarang ke Ustad Haidar Bagir. Imajinasi, yang maknanya sudah kita dapatkan dari Pengantar Mas Faiz, diyakini Ustad Haidar dapat memampukan orang untuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan, yang belum terjadi. Yang tidak kalah penting, tegas Ustad Haidar, imajinasi memampukan orang untuk membayangkan apa yang dirasakan orang lain.
Lalu Ustad Haidar mengajak kita menengok kehidupan manusia dalam sekup yang lebih luas. Kenyataannya, papar Ustad Haidar, tak ada unsur apa pun dalam kehidupan manusia yang terlepas dari daya imajinasi. Bukan hanya dalam bidang seni dan budaya, bahkan juga dalam bidang sains dan teknologi. Memang, imajinasi dan kreativitas adalah dua sisi dari satu uang logam. Jika kreativitas adalah proses melahirkan sesuatu yang baru dan bermakna, imajinasi adalah rahim tempat gagasan-gagasan itu dikandung. Imajinasi bukan hanya ruang bermain pikiran, melainkan wadah gagasan-gagasan dikembangkan menjadi karya nyata.
Ustad Haidar memastikan bahwa segala ciptaan besar dalam sejarah—baik dalam seni, ilmu pengetahuan, filsafat, maupun teknologi—bermula dari kemampuan membayangkan apa yang belum ada. Imajinasi memberikan manusia kekuatan untuk melihat dunia bukan sekadar sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana ia bisa atau seharusnya menjadi.
Ustad Haidar kemudian mengutip pemikir Inggris dan teoretikus pendidikan, John Dewey, “Imajinasi adalah pintu gerbang yang melaluinya makna diturunkan dari pengalaman-pengalaman masa lampau lantas masuk ke masa sekarang; imajinasi adalah penyesuaian secara sadar apa-apa yang baru dan apa-apa yang lama.”
Lalu ke mana pastinya buku ini mengarah dalam kaitannya dengan agama dan imajinasi? Biar Gus Ulil Abshar Abdalla, cendekiawan Muslim, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PBNU (2024-2027) membantu kita menunjukkan. Berikut Gus Ulil tentang buku ini:
“Beragama secara imajinatif adalah tesis utama yang dikemukakan oleh Mas Haidar Bagir, penulis buku-buku keislaman yang sangat prolifik ini. Tesis ini mengandaikan bahwa di seberang sana ada modus keberagamaan yang lain-sebut saja: keberagamaan yang tidak imajinatif, rigid, legal-formalistik. Dan memang sejatinya, modus yang terakhir ini telah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, sejak dulu hingga sekarang. Paradoks modernitas adalah justru ditandai, antara lain, dengan meruyaknya modus keberagamaan yang tidak imajinatif ini. Keberagamaan model ini membawa dampak-dampak yang kurang sehat dalam kehidupan sosial, antara lain sikap-sikap tertutup, intoleransi, kekakuan dalam memahami teks-teks agama. Mas Haidar, melalui bukunya ini, sejatinya sedang melakukan ‘kritik tidak langsung’ terhadap modus keberagamaan semacam ini.”
Dalam kerangka makna yang sudah kita utarakan, selamat melambungkan imajinasi!! Tapi jangan pula imajinasinya “liar” seperti John Lennon: “Imagine there’s no heaven…Imagine there’s no countries…Imagine no possessions…And no religion, too…

