Siti Dewi Sutan Assin: Pembawa Baki Pertama Republik Indonesia
Salah satu posisi yang paling dihormati dalam formasi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) setiap tahunnya adalah pembawa baki. Pembawa baki adalah petugas yang bertanggung jawab untuk mengambil bendera Merah Putih dari Presiden dan membawanya ke tiang bendera saat upacara pengibaran. Posisi ini juga penting dalam upacara penurunan bendera, di mana pembawa baki mengantar bendera kembali kepada Presiden atau pembina upacara.
Namun, tahukah Anda siapa yang menjadi pembawa baki pertama Indonesia? Sosok tersebut adalah Siti Dewi Sutan Assin, yang mungkin namanya sering disebut dalam sejarah tetapi tidak banyak diketahui.
Kisah Siti Dewi Sutan Assin
Siti Dewi Sutan Assin, atau sering dipanggil Titik, adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Paskibraka Indonesia. Ia adalah bagian dari lima pemuda-pemudi yang terlibat dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan pertama Indonesia pada tahun 1945 di Yogyakarta.
Pada saat itu, Husein Mutahar, yang dikenal sebagai Bapak Paskibraka Indonesia dan ajudan Presiden Sukarno, ditugaskan untuk mempersiapkan upacara kemerdekaan pertama. Awalnya, Mutahar ingin agar pengibaran bendera dilakukan oleh pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia. Namun, karena situasi yang tidak memungkinkan, ia akhirnya memilih lima pemuda yang kebetulan berada di Yogyakarta, termasuk Siti Dewi Sutan Assin.
Informasi tentang Siti Dewi Sutan Assin sangat terbatas, tetapi salah satu Purna Paskibraka Indonesia tahun 1978, Budiharjo Winarno, berbagi kisahnya di laman Paskibraka Community. Budi menceritakan bagaimana ia mengenal Husein Mutahar dan diberi amanat untuk mencari tahu tentang Titik Dewi. Setelah bertahun-tahun mencari, Budi akhirnya menemukan informasi tentang Titik melalui suaminya, Atmono Suryo.
Titik, lahir di Manado pada 5 Oktober 1926, adalah putri dari seorang dokter asal Padang yang bertugas di Manado sebelum pindah ke Yogyakarta. Ia dikenal aktif dalam berbagai organisasi relawan, termasuk Palang Merah dan kepanduan, yang membawanya berkenalan dengan Husein Mutahar.
Mutahar sangat terkesan dengan Titik karena kecerdasannya, penampilannya yang memukau, dan dedikasinya. Itulah sebabnya Titik dipilih untuk membawa baki dan menerima bendera dari Presiden Sukarno. Titik tinggal di daerah Lempuyangan, Yogyakarta, dan bersekolah di dekat stadion olahraga Kridosono.
Husein Mutahar memilih lima pemuda yang kebetulan ada di Yogyakarta untuk mewakili pemuda Indonesia dan simbol Pancasila. Titik menjadi bagian penting dari sejarah Paskibraka Indonesia.
Setelah kemerdekaan, Titik melanjutkan studinya di Belanda dalam bidang pendidikan, dengan cita-cita memajukan pendidikan di Indonesia. Setibanya di Indonesia, ia menikah dengan Atmono Suryo, seorang diplomat, dan mereka menetap di Amerika Serikat.
Siti Dewi Sutan Assin meninggal pada 20 Desember 2000 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet, Jakarta. Budiharjo Winarno menemukan makamnya dan melaporkan kepada Mutahar bahwa amanatnya telah terlaksana dengan baik.
Pembawa Baki Paskibraka Nasional 2024
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2024, siapa yang akan menjadi pembawa baki Paskibraka Nasional masih menjadi misteri. Selama proses pelatihan, semua peserta memiliki kesempatan yang sama. Pengumuman mengenai siapa yang akan memegang posisi tersebut akan dilakukan pada H-1 hingga beberapa jam sebelum upacara dimulai.
Yang pasti, pembawa baki Paskibraka Nasional 2024 adalah sosok yang telah teruji kemampuannya dan akan mewakili pemuda-pemudi Indonesia dengan kebanggaan.

