Penelitian

Inovasi Material Berpori untuk Penyimpanan Gas Rumah Kaca

Advertisements

Penemuan baru dalam material berpori telah menarik perhatian ilmuwan karena kemampuannya menyimpan karbon dioksida secara efektif. Material ini terdiri dari molekul berongga mirip sangkar yang dapat menampung gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan sulfur heksafluorida, yang dikenal sebagai gas dengan efek pemanasan yang kuat dan dapat bertahan ribuan tahun di atmosfer.

Dr. Mark Little, pemimpin penelitian dari Universitas Heriot-Watt di Edinburgh, mengungkapkan bahwa penemuan ini menawarkan solusi potensial untuk tantangan besar dalam menangani emisi gas rumah kaca. “Meskipun kita berhenti mengeluarkan karbon dioksida, kita masih perlu menangkap emisi yang sudah ada di atmosfer,” ujar Dr. Little, seperti dilaporkan Sky News pada 6 Juli 2024. Ia menambahkan bahwa meskipun penanaman pohon efektif dalam menyerap karbon, prosesnya sangat lambat, sehingga diperlukan inovasi seperti molekul buatan untuk menangkap gas rumah kaca secara lebih cepat.

Gas rumah kaca berperan dalam pemanasan global dengan ‘memerangkap’ panas di atmosfer Bumi. Karbon dioksida, yang dilepaskan secara alami, dan sulfur heksafluorida, gas buatan dengan daya serap panas yang sangat tinggi, berkontribusi terhadap efek ini. Pada 2019, Inggris menjadi negara besar pertama yang berkomitmen untuk mencapai nol emisi gas rumah kaca pada tahun 2050.

 Peran Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pengembangan Material

Para peneliti memanfaatkan simulasi komputer untuk memprediksi pembentukan material baru dari molekul ini, dan Dr. Little menyarankan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) dapat lebih lanjut meningkatkan potensi material ini di masa depan. AI memungkinkan penciptaan “material baru yang belum pernah ada sebelumnya” tanpa harus membuatnya secara fisik di laboratorium.

Penelitian ini dianggap sebagai “langkah penting” dalam mengembangkan bahan lainnya dan dapat digunakan untuk menghilangkan senyawa beracun dari udara, berpotensi berkontribusi pada bidang kedokteran juga. Selain ilmuwan dari Universitas Heriot-Watt, peneliti dari Universitas Liverpool, Imperial College London, Universitas Southampton, dan Universitas Sains dan Teknologi China Timur turut terlibat dalam proyek ini, yang didanai oleh Dewan Penelitian Teknik dan Ilmu Fisika serta Leverhulme Trust dan diterbitkan di jurnal Nature Synthesis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *